AICIF Ke-14 di UIN Jakarta: Prof. Kabir Hassan Tegaskan Pentingnya Subtansi dan Inovasi Berkelanjutan dalam Keuangan Syariah Global
AICIF Ke-14 di UIN Jakarta: Prof. Kabir Hassan Tegaskan Pentingnya Subtansi dan Inovasi Berkelanjutan dalam Keuangan Syariah Global

JAKARTA, 13 OKTOBER 2026 — UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi menggelar Konferensi Internasional Tahunan Keuangan Syariah (14th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance). Mengusung tema "Islamic Finance in the Contemporary Global Economy: Innovation, Stability, Sustainability, and Inclusive Development", konferensi internasional ini menghadirkan pakar keuangan syariah ternama dunia, Prof. M. Kabir Hassan, Ph.D. dari University of New Orleans, Amerika Serikat, sebagai pembicara utama (keynote speaker).

Dalam pemaparannya, Prof. Kabir Hassan menyampaikan refleksi mendalam mengenai masa depan dan peran strategis industri keuangan syariah di tengah ketidakpastian ekonomi global, fragmentasi politik, serta tantangan perubahan iklim. Beliau menegaskan bahwa keuangan syariah harus bergerak dari sekadar replikasi produk konvensional menuju keuangan etis yang terintegrasi dan berdampak nyata bagi masyarakat (substance over form).

Aset Capai US$ 6,5 Triliun, Namun Kualitas Dampak Jadi Kunci

Prof. Kabir Hassan menyoroti pertumbuhan pesat industri keuangan syariah yang kini diperkirakan mencapai US$ 6,5 triliun pada tahun 2025 dan diproyeksikan tumbuh hingga US$ 10,5 triliun pada tahun 2030. Namun, di balik pertumbuhan angka aset tersebut, beliau mengingatkan tantangan paradoks inklusi dan penetrasi yang masih belum sebanding dengan populasi Muslim global serta kebutuhan pembangunan riil.

"Ujian utama keuangan syariah bukanlah apakah kita bisa meniru setiap produk konvensional dalam bentuk yang patuh syariah, melainkan apakah kita mampu mengalokasikan kapital secara lebih bertanggung jawab, menyerap guncangan secara adil, dan mendanai transisi keberlanjutan secara kredibel," ujar Prof. Kabir Hassan.

4 Pilar Utama Keuangan Syariah Masa Depan

Dalam AICIF ke-14 ini, Prof. Kabir Hassan merumuskan empat pilar utama yang saling terkait untuk masa depan keuangan syariah:

1. Inovasi (Innovation): Pemanfaatan fintech, AI, dan tokenization yang memperluas aksesibilitas dan transparansi tanpa kehilangan arah etis.

2. Stabilitas (Stability): Ketahanan dari ketimpangan dan risiko finansial melalui keterkaitan langsung dengan aset riil.

3. Keberlanjutan (Sustainability): Pengembangan instrumen keuangan iklim (climate finance) dan ESG Sukuk dengan taksonomi serta verifikasi dampak yang kredibel.

4. Inklusi (Inclusion): Mengintegrasikan keuangan sosial Islam (Zakat, Wakaf, Qardhul Hasan) dengan sektor keuangan komersial menjadi mesin pembangunan yang terukur.

Sorotan Terhadap Kepemimpinan Sukuk Hijau Indonesia

Dalam paparan studi kasusnya, Prof. Kabir Hassan memberikan apresiasi khusus terhadap Green Sukuk Indonesia sebagai contoh sukses dunia dalam memobilisasi dana warga untuk transisi iklim. Indonesia telah mencatatkan lebih dari US$ 11,5 miliar Sukuk Hijau kumulatif sejak 2018–2024 (termasuk Sukuk Hijau Ritel yang berhasil menghimpun sekitar US$ 2,8 miliar dari masyarakat langsung) yang berhasil mendanai proyek-proyek keberlanjutan lingkungan dan pengurangan emisi karbon.

Beliau mendorong Indonesia untuk terus memperkuat strategi kepemimpinan terintegrasi dengan menghubungkan pasar modal syariah, fintech, sektor riil, lembaga zakat-wakaf, serta jaringan pesantren dan universitas.

Komitmen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Penyelenggaraan AICIF ke-14 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi momentum penting dalam memperkuat peran akademisi dan riset dalam memajukan industri keuangan syariah. Konferensi ini dihadiri oleh ratusan akademisi, praktisi, regulator, dan mahasiswa dari berbagai negara yang bersama-sama mendiskusikan agenda riset, formulasi kebijakan, serta peta jalan keuangan syariah global. (AC)

Tag :