Dr. Syarah Syahira dari Malaysia Paparkan Strategi Membangun Ketahanan Finansial dan Tata Kelola Keuangan Islam di AICIF ke-14 di Jakarta
Dr. Syarah Syahira dari Malaysia Paparkan Strategi Membangun Ketahanan Finansial dan Tata Kelola Keuangan Islam di AICIF ke-14 di Jakarta

SERPONG, 14 OKTOBER 2026 — Gelaran 14th ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) hari kedua di Ballroom Swiss-Belhotel Serpong berlangsung penuh antusiasme. Pada sesi panel discussion, pakar ekonomi Islam asal Malaysia, Dr. Syarah Syahira, menyampaikan gagasan komprehensifmengenai ketahanan finansial (financial resilience) dan tata kelola instrumen keuangan Islam di hadapan ratusan akademisi, praktisi, serta mahasiswa internasional.

Dalam paparannya yang bertajuk "Building Financial Resilience in Contemporary Islamic Finance Ecosystem", Dr. Syarah Syahira menyoroti pentingnya adaptasi sektor keuangan syariah terhadap dinamika makroekonomi global serta tantangan iklim dan keberlanjutan.

Poin-Poin Kunci Penjelasan Dr. Syarah Syahira:

  1. Penguatan Ketahanan Sistemik Keuangan Syariah

Dr. Syarah menegaskan bahwa lembaga keuangan Islam harus memiliki fondasi permodalan dan manajemen risiko yang adaptif guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Risiko eksternal seperti fluktuasi pasar dan krisis iklim menuntut fleksibilitas instrumen keuangan Islam agar tetap stabil.

  1. Peran Integrasi Sektor Komersial dan Sosial Syariah

Beliau menekankan pentingnya sinergi antara perbankan syariah komersial dengan sektor keuangan sosial Islam (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf - ZISWAF). Integrasi ini dinilai ampuh dalam membangun jaring pengaman sosial (social safety net) dan memberdayakan masyarakat rentan secara berkelanjutan.

  1. Inovasi Instrumen Keuangan Hijau dan Berkelanjutan

Dalam menghadapi isu perubahan iklim, Dr. Syarah mendorong perluasan skema pembiayaan ramah lingkungan seperti Sukuk Hijau (Green Sukuk) dan pembiayaan berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance). Instrumen ini tidak hanya memenuhi kepatuhan syariah (Shariah compliance), tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang nyata (impact investing).

  1. Digitalisasi dan Tata Kelola Syariah (Shariah Governance)

Transisi menuju ekosistem digital dan FinTech syariah harus diimbangi dengan pengawasan tata kelola syariah yang ketat serta perlindungan konsumen. Dr. Syarah menggarisbawahi pentingnya transparansi, keadilan transaksi, dan mitigasi risiko siber guna menjaga kepercayaan publik (public trust).

Sesi diskusi panel yang dipimpin oleh moderator ini dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif bersama ratusan peserta dari berbagai universitas ASEAN dan lembaga keuangan. Konferensi AICIF ke-14 ini diharapkan terus melahirkan rekomendasi kebijakan dan inovasi riset demi mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan regional maupun global.

Tentang Konferensi AICIF 2026

ASEAN Universities International Conference on Islamic Finance (AICIF) merupakan konferensi tahunan antar-universitas se-ASEAN yang mempertemukan para akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk mendiskusikan inovasi dan keberlanjutan ekonomi Islam. AICIF ke-14 diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan International Council of Islamic Finance Educators (ICIFE), serta didukung penuh oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), BSN, Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Aladin, dan Pegadaian Syariah. (AC)

Tag :