Jumat Daring di Tengah Perang: Menghitung "Cuan" WFH FEB UIN Jakarta Saat Selat Hormuz Memanas
Jumat Daring di Tengah Perang: Menghitung "Cuan" WFH FEB UIN Jakarta Saat Selat Hormuz Memanas

Oleh:
Ady Cahyadi 
Dosen Prodi Ekonomi Syariah 
FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Sementara nun jauh di Timur Tengah rudal-rudal beterbangan antara Iran dan Israel, dampaknya ternyata merembes hingga ke Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat. Ditutupnya Selat Hormuz—urat nadi perdagangan minyak dunia—membuat harga minyak mentah global meroket tajam. Di Tanah Air, bayang-bayang krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai mengintai, memaksa pemerintah dan institusi memutar otak untuk mengencangkan ikat pinggang. 

Di sinilah Surat Edaran Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 10 Tahun 2026 tiba-tiba terasa seperti strategi bertahan hidup tingkat dewa. Kebijakan yang menetapkan hari Jumat sebagai hari Work From Home (WFH) yang awalnya dibungkus manis sebagai "transformasi tata kelola", kini menemukan urgensinya: menyelamatkan kantong sivitas akademika dan kas negara dari krisis energi. 

Tentu saja, bagi sebagian mahasiswa, ancaman krisis BBM ini justru menjadi legitimasi sempurna untuk "Jumat Rebahan". Berdalih menghemat Pertalite, mereka login Zoom dari balik selimut. Namun, mari kita kesampingkan sejenak kelakar tersebut dan menghitung secara serius seberapa masif penghematan dari mengosongkan kampus satu hari dalam sepekan.

Matematika Penghematan Gedung FEB di Era Krisis

Mari kita bedah anatomi pengeluaran energi Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Jakarta yang memiliki 5 lantai. Di hari kerja normal, gedung ini adalah monster pelahap energi. Dengan diberlakukannya WFH di hari Jumat, kita menghentikan perputaran meteran listrik dan pembakaran bensin secara drastis:

Efisiensi Ratusan Liter BBM: Asumsikan dalam sehari ada 1.000 sepeda motor dan 100 mobil mahasiswa/dosen terparkir di FEB. Di tengah ancaman krisis BBM global, menahan ribuan kendaraan ini di garasi pada hari Jumat berarti kita mencegah pembakaran setidaknya 1.300 liter BBM (dengan asumsi konsumsi per motor 1 liter dan mobil 3 liter BBM) dalam sehari. Ini bukan sekadar menghemat uang jajan, tapi langkah nyata mitigasi krisis energi nasional.

Menidurkan Fasilitas Haus Daya: Mari tengok lantai 1 FEB. Di sana terdapat ruang perpustakaan yang setiap harinya harus mendinginkan buku dan pengunjung dengan 3-4 buah AC yang terus menyala, ditambah puluhan titik lampu penerangan, ruang kelas perkuliahan yang lengkap dengan smart TV, AC dan LCD Proyektor baik di lantai 1, 4 maupun 5. Belum lagi 2 unit lift gedung yang biasanya tak henti-hentinya bergerak naik-turun membelah 5 lantai. Menutup akses fisik di hari Jumat memangkas ratusan kWh listrik.

Kardio Paksa Bapak/Ibu Dosen: Surat Edaran Rektor secara eksplisit menginstruksikan pembatasan fasilitas lift dengan mem- bypass lantai 2 dan 3. Artinya, di hari kerja biasa pun (Senin-Kamis), bapak/ibu dosen yang ruangannya berada di lantai 3 kini dianjurkan menggunakan tangga. Hitung-hitung kardio gratis agar tetap sehat. Kebijakan WFH di hari Jumat tentu memberi "napas buatan" bagi sendi-sendi lutut para dosen setelah empat hari berturut-turut menapaki tangga.

Langkah ini juga menyempurnakan edaran penghematan lainnya, seperti membatasi lampu ruangan maksimal 50% dan menyetel suhu AC di angka 24°C hingga 27°C. Jika dikalkulasi, penghematan operasional ini sangat mencerminkan prinsip manajemen keuangan syariah—menghindari tabdzir (kemubaziran) saat dunia sedang krisis.

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ۝٢٧

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. Al Isra:27

Solusi Ideal: Responsif, Bukan Pasif

Namun, WFH karena krisis energi tidak boleh menjadi alasan matinya denyut nadi akademik. Kuliah daring dan WFH tetap menuntut tanggung jawab penuh. Pegawai diwajibkan tetap on call dan merespons pesan maksimal dalam 60 menit. Jadi, hari Jumat bukanlah waktu yang tepat untuk bapak/ibu dosen menghilang dari grup WhatsApp dengan dalih memancing di kolam pemancingan, atau mahasiswa absen diskusi karena asyik push rank.

Agar kebijakan ini ideal, beberapa langkah taktis wajib diterapkan:

1. Infrastruktur Daring yang Kokoh: Dosen dan mahasiswa harus memaksimalkan ekosistem digital kampus. Optimalkan Microsoft Teams untuk rapat dan Learning Management System (LMS) UIN Jakarta lewat aplikasi e-semesta untuk kegiatan pembelajan.

2. Realokasi Anggaran Energi: Ratusan juta rupiah yang dihemat dari tagihan listrik, AC perpustakaan, operasional 2 lift, hingga air tanah di FEB, sebaiknya dikonversi untuk melanggan jurnal internasional premium atau memperkuat kapasitas server LMS agar tidak sering down saat musim ujian.

3. Akuntabilitas Kinerja: Untuk memastikan tidak ada yang makan gaji buta, setiap pegawai wajib mengunggah laporan pelaksanaan WFH secara online melalui laman sdm uin jakarta, maksimal 3 hari setelahnya

Perang di Timur Tengah dan ancaman krisis BBM memang di luar kendali kita. Namun, meresponsnya dengan bekerja cerdas dari rumah, mematikan AC perpustakaan sehari dalam sepekan, dan membakar kalori lewat tangga alih-alih membakar bensin di jalanan Ciputat, adalah lompatan efisiensi yang luar biasa. Tinggal bagaimana sivitas akademika FEB UIN Jakarta membuktikan bahwa kualitas intelektual mereka tidak ikut "rebahan" di hari Jumat.

Tag :