Qurban dan Keberlanjutan: Menyembelih Sapi, Bukan Menyakiti Bumi
Qurban dan Keberlanjutan: Menyembelih Sapi, Bukan Menyakiti Bumi

Hari Raya Iduladha kembali tiba. Sebuah momen yang identik dengan aroma sate yang merebak di setiap sudut gang, kepulan asap yang membuat mata perih, dan tentu saja: WhatsApp Group keluarga yang mendadak penuh dengan foto panitia kurban berwajah pasrah karena disepak sapi seberat 500 kilogram atau video warga yang mendadak fun run mengejar sapi kurban yang lepas.

Kurban adalah ibadah mulia, simbol ketakwaan, dan bentuk kepedulian sosial. Namun, entah sejak kapan, ibadah yang suci ini sering kali dibarengi dengan ritual sekunder yang agak kurang suci bagi lingkungan: festival plastik hitam atau merah dan pembuatan "sungai darah" dadakan di selokan warga.

Selokan Bukan Drakula

Mari kita bicara jujur. Setiap kali Iduladha selesai, selokan di sekitar tempat pemotongan hewan sering kali berubah warna menjadi merah pekat, lengkap dengan aroma distopia yang bertahan hingga seminggu ke depan. Logikanya, kita sedang berkurban untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tapi kenapa selokan rumah tetangga justru dikorbankan menjadi tempat penampungan limbah?

Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah SWT sudah memberikan "sentilan" keras mengenai perilaku manusia yang hobi merusak lingkungan. Dalam Surat Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman:


"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)

Membuang darah kurban langsung ke selokan adalah bentuk nyata dari "kerusakan di darat" yang bikin tetangga auto-pusing. Darah hewan itu limbah biologis. Kalau dialirkan ke selokan, ia akan membusuk, mengundang lalat, dan menciptakan ekosistem bakteri yang siap menyerang pencernaan warga semusim. Cara mengatasinya sebenarnya sederhana: buat lubang tanah khusus (septik tank darurat), kubur darah dan kotoran hewan di sana. Biarkan tanah yang memprosesnya menjadi pupuk. Bumi senang, cacing bahagia, tetangga pun tidak perlu memakai masker dobel di dalam rumah.

Hijrah dari Kresek Hitam ke Besek Bambu

Dosa ekologis kedua yang sering terjadi adalah fanatisme kita terhadap kantong plastik kresek, terutama yang berwarna hitam legam hasil daur ulang entah dari limbah apa.

Bayangkan, satu ekor sapi bisa menghasilkan ratusan kantong daging. Jika ada sepuluh sapi di satu masjid, ada ribuan kantong plastik yang didistribusikan ke warga. Tragisnya, plastik-plastik ini sering kali langsung berakhir di tempat sampah satu jam setelah dagingnya masuk ke wajan. Kita ingin mendapatkan pahala mengalir, tapi yang mengalir justru sampah plastik ke lautan.

Nabi Muhammad SAW melarang kita untuk berbuat mudarat (merugikan), baik kepada diri sendiri maupun lingkungan. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda:


"Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain." (HR. Ibnu Majah)

Plastik yang butuh waktu ratusan tahun untuk terurai jelas-jelas adalah "dharar" (bahaya) nyata bagi masa depan cucu kita. Lantas, apa solusinya? Apakah kita harus membawa daging kurban dengan tangan kosong sambil pamer estetik? Tentu tidak.

Yuk, kita kembali ke kearifan lokal yang jauh lebih berkelas: besek bambu atau daun jati.

Membagikan daging kurban dengan besek bambu beralaskan daun jati atau daun pisang itu tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga mendongkrak estetika. Daging kurban Anda seketika kelihatan seperti kuliner tradisional premium berharga mahal, bukan seperti barang sitaan yang dibungkus kresek hitam. Lagipula, daun jati memiliki zat alami yang aman dan tidak meleleh saat terkena suhu daging yang masih hangat, berbeda dengan plastik daur ulang yang bisa mentransfer zat kimia berbahaya ke daging.

Kurban Keren, Bumi Aman

Ibadah kurban adalah tentang keikhlasan dan kepedulian. Sangat kontradiktif jika kita mengejar rida Allah lewat sepotong daging, namun di saat yang sama kita meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang nyata bagi bumi yang Dia ciptakan.

Melestarikan alam bukan cuma tugas para aktivis yang hobi memakai baju hijau dan mendemo pabrik. Tugas menjaga lingkungan itu melekat pada setiap individu yang mengaku beriman.

Mari kita ubah tren Iduladha tahun ini. Panitia kurban tidak hanya sibuk mengasah golok, tetapi juga sibuk menyiapkan lubang galian tanah dan memesan besek dari pengrajin lokal. Mari kita buktikan bahwa umat Islam bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian alam.

Sebab, apa gunanya kita kenyang makan sate hari ini, jika esok hari kita harus kebanjiran karena selokan tersumbat dan bumi semakin sekarat? Selamat Hari Raya Iduladha. Mari berkurban dengan cerdas, bersih, dan hijau!

 

Oleh:

Ady Cahyadi

Dosen Prodi Ekonomi Syariah