Salah seorang mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bernama Naztasha Saffana atau biasa dipanggil Acha pada bulan Agustus 2019 ini mengikuti projek pengabdian sosial di Sarawak, Malaysia. Program ini terselenggara melalui VTIC Foundation bersama 26 teman lainnya dari seluruh Indonesia. Proses tahapan seleksi program ini telah dilaksanakan sejak bulan Februari 2019. Sebelum berangkat seluruh peserta, pada awal bulan Agustus mengikuti pelatihan selama 3 hari di Depok. Di tempat pelatihan, selain menjadi tempat pembekalan ilmu juga menjadi tempat kami saling mengenal dan lebih dekat satu sama lain.
Agenda projek pertama peserta yaitu berkunjung ke KBRI Malaysia di Kuala Lumpur. Para peserta bertemu dengan Atdikbud KBRI Bapak Mokhamad Farid Maruf, Ph.D dilanjutkan berkunjung ke KJRI Kuching di Sarawak bertemu dengan Bapak Konjen Yonny Tri Prayitno, SE.
Setelah perjalanan panjang, Alhamdulillah akhirnya seluruh peserta sampai ke penempatan CLC masing-masing. Community Learning Center atau CLC adalah institusi pendidikan yang menyediakan akses pelayanan pendididkan dasar (SD) bagi anak-anak pekerja ladang berkewarganegaraan Indonesia yang berada di Negeri Sarawak, Malaysia. (https://kemlu.go.id/kuching/id/news/1344/community-learning-centre-clc-sarawak).

Acha bersama dua teman lainnya bertugas di CLC Pekaka yang berada di bawah naungan Perusahaan Sime Darby. CLC Pekaka mempunyai dua guru bina dari Kemdikbud. Guru-guru di CLC tak seperti kebanyakan guru, mereka harus multitalent mengelola sekolah, mengurus keuangan, kesiswaan, seperti dokumen hingga pembuatan paspor anak-anak, kurikulum dan sarana prasarana, juga tentunya menguasai semua mata pelajaran. Ketika jam sekolah mereka menjadi guru yang dihormati dan disegani, tetapi selebihnya mereka menjadi teman bagi murid-murid. Guru juga mengenal baik hampir semua orangtua beserta latar belakang keluarga masing-masing sehingga saya sangat merasakan kekeluargaan yang ada di lingkungan ini.
Murid kami berjumlah hampir 100 orang, termasuk banyak dibanding CLC lainnya. Sejak hari pertama di sini para peserta langsung merasakan semangat murid-murid untuk bersekolah. Sebelum pukul 7 suara-suara mereka sudah terdengar memenuhi lorong-lorong sekolah. Tak heran, karena orangtua mereka pun harus pergi kerja ke ladang sejak pukul 6 pagi. Sebagian mereka tinggal di perumahan ladang yang tak jauh dari sekolah, sebagian lagi tinggal di perumahan ladang lainnya sejauh 30 – 90 menit perjalanan.
Murid-murid saya di sini cerdas, selalu bersemangat setiap saat seperti anak-anak aktif kebanyakan, ditambah dengan ketertarikan mereka terhadap para peserta. Para peserta tak hanya menjadi guru dalam belajar tetapi juga harus bisa memberi pemahaman agama dan pemahaman karakter sesuai modul pembekalan, sekaligus menjadi motivator agar mereka lebih semangat lagi. Selain belajar di dalam kelas, kami sering bermain sambil belajar di luar kelas di luar jam sekolah, mengenalkan juga permainan-permainan seru yang bisa mereka lakukan.
Ada yang sangat berambisi dalam matematika, ada yang setiap istirahat menagih permainan baru, ada yang hobi menyapa dan menyalami kami, ada yang suka mengerjakan tugas di sekolah hingga malam, ada yang sangat diam di kelas namun sebenarnya sangat perhatian, ada yang suka memberi es dan camilan, dan masih banyak macamnya lagi. Pada intinya mereka semua sama, mereka mempunyai jiwa nasionalis yang tinggi tercermin dari semangat mereka ketika setiap pagi menyanyikan Indonesia Raya. Mereka kagum dan berbinar saat para peserta program membicarakan Indonesia. Seperti ada harapan yang mereka titipkan pada para peserta untuk men-support mereka terus menerus. Tak sedikit yang mengutarakan cita-citanya walau mereka masih SD, mereka ingin melanjutkan sekolah di Sulawesi, Jakarta, Kalimantan, dan lainnya yang penting di Indonesia.
Semua semangat yang kami dapatkan dari mereka mampu menutupi rasa sedih kami di awal karena sinyal yang sulit walau hanya untuk sms, kami harus ke surau yang berada lebih tinggi atau menaiki bukit-bukit sekitar atau sinyal sesekali pada tengah malam. Di rumah para pekerja, listrik hanya menyala pada jam 4 – 6 pagi, kemudian jam 6 sore – 11 malam. Akses dari sekolah menuju gerbang utama jalan raya sekitar 10 km, sedang perjalanan ke bandar tempat belanja kebutuhan sehari-hari bisa berjam-jam jauhnya.
Pada awalnya Acha tak bisa mudah percaya bahwa dibalik senyuman dan tawa itu mereka menghadapi kehidupan yang cukup keras di lingkungan ladang. Bukan permasalahan ekonomi yang menjadi hal utama di sini, tetapi permasalahan keluarga yang beragam, ada yang ditinggal orangtuanya sehinga tinggal bersama nenek atau keluarga lainnya, dan hal-hal lainnya yang tak dapat disebutkan satu persatu. Sehingga sekolah menjadi rumah kedua tempat mereka berbagi suka duka bersama.
Anak-anak kecil nan lucu di sana saja masih bisa sangat tegar dan mempunyai semangat yang tinggi untuk dirinya sendiri dan Indonesia, bagaimana bisa kita yang sejak dulu tinggal di Indonesia berdiam saja tak berbuat apapun untuk Indonesia tercinta ini?